S/mileage - Suki Chan = the vision of new world order? Setidaknya itulah menurut pendapat saya.. Sekarang, tolong jangan buru2 menghakimi judul yang saya pilih, karena tujuannya memang menarik perhatian Anda.. Jika Anda mempunyai waktu luang yang sangat banyak, sehingga bisa nyasar ke halaman ini, tidak ada salahnya untuk membaca pemaparan panjang / esai di bawah ini......
SEJARAH Tulisan ini, aslinya adalah surat elektronik (surel) yang telah lama saya tulis kepada salah seorang sahabat baik. Nama sahabat baik tsb akan saya rahasiakan, dan saya gantikan dengan atribut “XOXO”. Kronologisnya, kira-kira beberapa tahun yang lalu, saya dan sahabat tsb berniat untuk membuat sebuah skenario film televisi. Surat ini adalah bagian dari usaha pencarian kami akan gagasan untuk film yang akan kami buat. Saya tidak akan cerita panjang lebar, namun pada akhirnya usaha kami untuk membuat film tersebut gagal karena ditelan kesibukan dan rutinitas kami masing-masing. Namun apa yang saya harapkan ialah, ide yang telah kami hasilkan janganlah sampai terkubur, oleh karena itu saya akan sangat bersyukur jika ide ini dapat menginspirasi satu-dua orang saja.
IDE CERITA FILM TELEVISI Paling ngga ada tiga hal yang jadi latar belakang cerita ini, XOXO. Tiga hal tersebut ialah : 1. Kebudayaan Jepang modern yang semakin merasuk ke Indonesia, mengalahkan booming-nya kebudayaan Barat 2. Anak Indonesia yang punya bakat yang sangat besar. 3. Pendidikan jaman sekarang yang mengacu pada Kurikulum Berbasis Kompetensi Mau ngga mau saya bahas dulu satu-satu ya :
Hal ini ngga usah diperdebatin lagi, lah. Contohnya lihat aja kita : saya dengan idol thing dan kamu dengan anime ama manga. Kita lihat aja berapa keranjingannya kita ama hal-hal demikian. Ngga cuma kita, tapi lihat juga semua orang, terutama anak muda. Lihat kenyataan bahwa hampir tiap SMP, SMA, Universitas punya yang namanya unit kebudayaan Jepang yang tidak pernah sepi peminat. Lihat betapa rutinnya festival kebudayaan Jepang sering diadain di mall-mall dan mereka ga pernah sepi pengunjung. Lihat gaya berpakaian dan dandan artis-artis yang semakin berkiblat ke Jepang. Lihat grup band J-Rock’s. Lihat banyaknya fans L’arc en Ciel yang saya berani bilang bahwa mereka-lah grup rock asing yang paling banyak fans-nya di Indonesia.
Kenyataan itu adalah satu hal, dan di lain pihak belum banyak orang yang mau mengakui hal ini. Meskipun semua tahu bahwa kebudayaan Jepang modern semakin mempengaruhi hidup orang-orang Indonesia, namun hal ini masih seolah disembunyikan dari masyarakat, oleh masyarakat sendiri. Masih banyak pihak yang malu ngaku kalo mereka addict ama kebudayaan tsb, dan masih banyak pihak yang mengejek orang2 yang suka kebudayaan tsb. Generally speaking, saya mau bilang kalo hal ini (kebudayaan Jepang) udah menjadi tren di Indonesia, yang anehnya tren tersebut tidak diakui sebagai tren. Paling ngga kita ngga pernah lihat kehidupan otaku di Indonesia sampai masuk film, kan? Yang kita lihat di TV ialah kehidupan anak muda di Indonesia yang terlalu di over-simplified dalam arti mereka dianggap tidak memiliki hobi atau kepribadian; dan dibuat seolah-olah setiap waktu mereka dan perilaku mereka ditujukan untuk cinta-cintaan semata
Hal inilah yang saya pingin tangkap. Saya ngga pingin nangkap cerita percintaan yang terlalu dibuat-buat seperti film-film Indonesia lainnya. Dimana tokoh-tokohnya dibuat memikirkan percintaan dalam 7x24 jam. Pagi mikirin cowo, siang mikirin cowo, malam mikirin cowo. Itu semua basi! Dan ga nyata!!
Yang saya inginkan ialah : menangkap keseharian anak-anak muda di Indonesia. Apa yang mereka suka, apa perilaku mereka terhadap hal yang mereka suka tersebut, bagaimana lingkaran pergaulan mereka yang terbentuk karena persamaan rasa suka akan sesuatu. Bagaimana kehidupan anak muda sekarang yang dinamis, bagaimana interaksi di antara mereka. Bagaimana mimpi-mimpi mereka (yang tentu dipengaruhi hal-hal yang mereka sukai), dan bagaimana mereka meraih impian tersebut. Saya pingin nangkap hidup mereka yang penuh dinamika dan perubahan. Karena seperti film Memento bilang : satu-satunya hal yang statis dalam hidup ini adalah perubahan.
Kalo kita bisa nangkap dinamika itu, baru kita bicara percintaan, persaingan memperebutkan cinta, kebahagiaan, kesedihan dan unsur romantisme lainnya.
Dan invasi kebudayaan Jepang modern di Indonesia ialah koridor cerita ini. Hal inilah yang menjadi ruang lingkupnya, yang akan mempengaruhi sikap dan pandangan si tokoh. Inilah batu batanya, yang akan menjadi pembentuk rumah cerita secara keseluruhan.
Lagi-lagi hal ini adalah sesuatu yang ada namun seolah diingkari sendiri oleh orang Indonesia. Pada umumnya kita beranggapan bahwa siswa di Indonesia adalah siswa yang payah, pemalas dan tingkat intelijensianya masih jauh di bawah anak-anak Inggris, Amerika dan Jepang. Rata-rata anak orang berada disekolahkan ke luar negeri dengan harapan akan mendapat pendidikan yang jauh lebih layak, dan hidup di antara masyarakat yang jauh lebih supportive untuk kemajuan akademisnya. Hal seperti ini sudah menjadi fag, yakni sesuatu hal yang belum tentu benar/salah namun diterima luas sebagai kebenaran di masyarakat.
Anak Indonesia memiliki bakat yang besar. Lihatlah berapa banyak medali olimpiade sains yang udah dimenangkan oleh anak-anak Indonesia. Kalo boleh saya bilang, anak Indonesia memiliki bakat yang jauh besar untuk berkarya dibanding anak negeri lain. Namun sayangnya, yang namanya bakat ialah sesuatu yang dipunyai oleh seseorang namun belum tentu akan keluar apabila tidak dilatih dan terus dilatih. Dan hal inilah yang terjadi di Indonesia.
Pekerja Indonesia seringkali dianggap pekerja kelas 3, karena produktivitasnya yang lemah. Ya, produktivitas! Bukan intelijensia, bukan kualitas pendidikan yang diterimanya, apalagi bukan karena faktor genetik manusia Indonesia. Lalu, hal apakah gerangan yang menyebabkan produktivitas buruk tersebut? Sederhana, XOXO! Pekerja Indonesia tidak menyenangi pekerjaan yang digelutinya! Pernah ga kita lihat tukang tahu yang bangga akan rutinitas kerjanya? Tukang kayu yang bangga dengan karya-karyanya? Montir mobil yang bangga dengan keahliannya? Alih-alih memperdulikan kualitas karyanya, mereka lebih menguatirkan tentang uang, apakah mereka dapat makan esok hari, apakah mereka dapat mempunyai rumah, dsb. Padahal kualitas seorang pekerja (dan tentu besarnya kompensasi yang akan mereka terima) amat ditentukan oleh kualitas pekerjaan mereka (yang tidak mereka perhatikan, karena lebih kuatir dengan masalah hari esok). Hal inilah yang akhirnya menjadi lingkaran setan, yang menyebabkan produktivitas pekerja di Indonesia menjadi rendah, yang menyebabkan upah mereka tak pernah tinggi. Yang menyebabkan mereka tidak pernah makmur. Lebih penting lagi, yang menyebabkan mereka tidak pernah bahagia.
Pekerja yang bahagia ialah pekerja yang jatuh cinta dengan aktivitas pekerjaannya. Dari merekalah hadir masterpiece-masterpiece. Dan jumlah masterpiece-masterpiece yang dihasilkan rakyat pada suatu negara akan menentukan tingkat kemakmuran negara tersebut. Itulah teori saya.
Apa sih yang menyebabkan rata-rata orang Indonesia tidak menyenangi pekerjaan yang digelutinya? Lagi-lagi sebuah jawaban yang sederhana, masalah ini dimulai di masa kecil orang Indonesia, dimana dimensi kehidupan anak Indonesia terlalu linear. Terdapat tiga pola linearitas masa depan yang umum dijumpai pada anak-anak Indonesia : 1. Anak perempuan di desa : balita – membantu ibu di dapur –menikah di usia dini – membantu suami di sawah 2. Anak laki-laki di desa : balita – sekolah, sampai dirasa ilmunya cukup untuk ngitung2 hasil panen – menggarap sawah 3. Anak kota : balita – playgroup elite – TK unggulan – SD unggulan – SMP unggulan – SMA unggulan – Universitas unggulan - karyawan unggulan
Tidak berhenti sampai di situ, linearitas juga terdapat di jenjang karier : 1. Karier unggulan : dokter, insinyur, pegawai negeri, pegawai bank 2. Perusahaan unggulan : rumah sakit swasta (baca : RS Kristen), perusahaan minyak, bank, depkeu, dirjen pajak 3. Bidang yang harus dijauhi : guru, peneliti, salesman, petani, seniman
Demikian linearnya! Hal ini berarti, seorang anak perempuan desa yang berbakat menjahit atau berbakat menari atau berbakat mengajar atau berbakat memasak harus membantu suami di sawah. Semua anak laki-laki di desa yang berbakat matematika, berbakat olahraga, berbakat membuat puisi harus bekerja di sawah. Semua anak kota yang berbakat di ilmu sains, berbakat di kesenian, berbakat memahat kayu, berbakat memasak, berbakat menata tanaman, berbakat membuat game, berbakat membuat anime, berbakat programming, berbakat jurnalistik dan banyak bakat lainnya harus bersaing menjadi salah satu dari : dokter, insinyur, pegawai bank atau pegawai negeri. Jika gagal, siap-siap lah berada di masyarakat kelas kedua!
Paling ngga itulah penyebab utama yang membuat pekerja Indonesia tidak menyenangi pekerjaannya. Coba kita bandingin ama negara Jepang, bagaimana mereka amat menghargai pekerjaannya masing-masing. Lihat tokoh utama Honey n Clover yang dengan bangga memilih profesi jadi tukang kayu. Lihat bapaknya Erika Sawajiri di film One Liter of Tears yang amat bangga dengan toko tahunya. Lihat Kazuya Kamenashi di film Tatta Hitotsu No Koi yang selalu berupaya menjadi montir terbaik. Lihat manga Yakitate!! Japan mengenai koki-koki roti yang selalu berupaya menjadi yang terbaik. Lihat dorama Good Luck! dimana pilot, pramugari dan teknisi pesawat bahu-membahu untuk membuat penumpang pesawat mendapatkan pengalaman terbang terbaik. Mereka semua amat mencintai pekerjaannya dan selalu berusaha menjadi yang terbaik. Mereka selalu ingin memberikan pelayanan terbaik, produk terbaik dan selalu ingin membuktikan bahwa dirinya dapat menjadi anggota masyarakat yang berguna. Apapun pekerjaannya, mereka bahagia melakukannya, tentu saja karena pekerjaan tersebut adalah pekerjaan yang benar-benar diinginkannya, yang sesuai bakatnya. Lihat film Sappuri dimana Kazuya Kamenashi mencoba untuk menemukan pekerjaan yang benar-benar diinginkannya (desainer grafis) , dan begitu dia menemukannya lihat bagaimana kerja kerasnya untuk menjadi yang terbaik di pekerjaan tersebut.
Mungkin ada yang berargumen, "semua contoh di atas, kan, film!". Tentulah ada beberapa hal yang didramatisir dan mungkin sengaja dilebih-lebihkan. Saya berani katakan, “Tidak!”. Film adalah sebuah produk yang berasal dari masyarakat, dimana dia menangkap bagaimana keadaan dinamika masyarakat. Dengan kata lain, apa yang terjadi di film adalah apa yang memang terjadi di masyararakat. Ide mengenai film timbul dari interaksi pembuat film dengan masyarakat, oleh karena itu jangan heran kalo film-film bagus ialah film yang dapat menggambarkan fakta mengenai masyarakat dengan jujur, apa adanya.
Coba aja lihat film Indonesia, di mana tokoh-tokoh yang berhasil selalu digambarkan sebagai satu dari dua : dokter, atau pegawai perusahaan bonafide. Karakter-karakter di film-film Indonesia amat miskin profesi, yang menggambarkan dengan persis bagaimana linearitas pandangan akan profesi di Indonesia (seperti dah dijelasin di atas). Ditambah lagi, film Indonesia amat alergi dengan yang namanya usaha kerja keras untuk menjadi yang terbaik di pekerjaannya. Lihat saja, karakter-karakter yang digambarkan di film ialah orang yang sudah berhasil dari sononya, tanpa diperlihatkan bagaimana upaya mereka untuk mencapai keberhasilan tersebut. Saya kira hal inilah yang membuat orang Indonesia menjadi masyarakat daydreamer yang selalu menginginkan sukses tanpa tahu bagaimana cara untuk meraihnya. Kadang-kadang saya juga merasa kita (anak-anak ITB) kayak begitu.
Inti dari pemaparan yang amat panjang ini ialah : saya ingin membuat film yang membuka mata anak Indonesia bahwa mereka ialah anak yang berbakat. Tidak sampai di situ, mereka haruslah bekerja di bidang yang mereka sukai, mengasah bakat mereka dan menjadi yang terbaik di bidang tersebut. Anak yang berbakat menari haruslah jadi penari terbaik, anak yang berbakat melukis haruslah jadi pelukis terbaik, anak yang berbakat belajar haruslah jadi peneliti terbaik dan sebagainya dan sebagainya. Saya ingin membuka mata rakyat Indonesia bahwa, pekerjaan yang terbaik bukanlah pekerjaan yang mendatangkan kompensasi terbesar, namun pekerjaan yang benar-benar kita cintai aktivitasnya. Saya ingin membuat pandangan linearitas tersebut hilang, dan membuat generasi yang benar-benar melakukan hal yang dicintainya.
“Bekerjalah di bidang yang kamu sukai, dan jadilah yang terbaik di bidang itu”, itulah pesan yang pengin saya sampaikan.
Untungnya, para praktisi pendidikan di Indonesia mulai menyadari bahwa setiap anak tidaklah sama, mereka memiliki keunikan masing-masing yang tercermin dari keberhasilan si anak di salah satu bidang. Sebagai contoh, ada Si Udin berhasil di mata pelajaran bahasa, namun jeblok di pelajaran matematika. Dalam kurikulum klasik, hal tersebut diterjemahkan begini : Si Udin itu bodoh, oleh karena itu dia harus bekerja lebih keras di pelajaran matematika, sembari mempertahankan keunggulannya di Bahasa. Pada kenyataannya, pada kurikulum klasik, anak yang pintar ialah anak yang menguasai matematika, bahasa, IPA, IPS, PPKn, dan Agama semuanya sekaligus. Sedangkan anak yang bodoh ialah anak yang tidak menguasai pelajaran matematika, bahasa, IPA, IPS, PPKn, dan Agama baik masing-masing maupun kesemuanya. Dan inilah yang menyebabkan anak-anak dulu menjadi kelebihan tekanan, beberapa frustrasi, miskin kemampuan di luar pelajaran (karena sebagian besar waktunya habis di pelajaran), lemah dalam menerapkan manfaat pelajaran di kehidupan sehari-hari (karena pelajaran dipelajari hanya untuk mendapat nilai) serta memiliki pandangan yang sempit (karena kehidupannya seluruhnya dicurahkan untuk pelajaran saja).
Catatan Sampingan : Kurikulum klasik memiliki analogi seperti gelas tukang beras. Apabila gelas beras kekurangan beras, maka dia harus diisi lagi sampai rata permukaannya. Sebaliknya, apabila gelas beras kelebihan beras, dia harus dikurangi sampai rata permukaannya. Kurikulum lama sama sekali tak memperhatikan bakat siswanya, karenanya dia hanya akan menambah apa yang dirasa kurang serta mengurangi apa yang dirasa berlebih.
Dalam kurikulum berbasis kompetensi yang ideal, apabila ada seorang anak yang berhasil di mata pelajaran bahasa, namun jeblok di pelajaran matematika, hal tersebut akan diterjemahkan begini : anak tersebut memiliki kompetensi lebih di bidang bahasa dan kurang berkompetensi di bidang matematika, which is very normal for every human. Hal tersebut akan ditindaklanjuti dengan : tingkatkan lagi kelebihan anak tersebut di bidang bahasa, ajarkan lebih banyak bahasa, ajarkan struktur bahasa yang lebih kompleks, suruh dia baca karya sastra yang lebih kompleks, lakukan ini sampai dia menjadi yang terbaik di bidang bahasa dan kesusasteraan. Lalu matematikanya ? Tentu saja kurangi bebannya, ajari dia matematika seperlunya sehingga dirasa matematika yang dia kuasai sudah cukup untuk dipergunakan di masyarakat umum. Kenapa? Tentu saja karena seorang sastrawan tidak akan memerlukan kemampuan {integral lipat tiga, kemampuan mengkalkulasi fungsi transenden, fungsi polinomial empat tingkat dan teknik La Grange} dalam pekerjaannya bukan?
“Orang yang berhasil dalam pekerjaannya bukanlah orang yang menguasai semua bidang ilmu, namun ialah orang yang paling menguasai ilmu yang dibutuhkan di bidang pekerjaannya”. Inilah kunci dari Kurikulum Berbasis Kompetensi (yang ideal).
Dan KBK pun diterapkan di Indonesia. Namun penerapannya di Indonesia masihlah jauh dari ideal. Kenapa? Karena KBK lebih sering diterjemahkan sebagai : guru hanya memperkenalkan pelajaran, sementara siswa lah yang dituntut aktif untuk mendalaminya. Akibatnya? Yang terjadi ialah guru menjadi lebih malas untuk menerangkan pelajaran secara appropriate dan lebih kacau lagi, siswa jauh lebih malas lagi untuk mendalaminya. Seperti kata pepatah, guru kencing berdiri murid kencing berlari. Dalam beberapa kasus, terdapat beberapa guru yang tidak ingin menerapkan pendidikan KBK ini, karena berdasarkan pengalamannya siswa-siswanya amat malas untuk mendalami suatu bidang apabila tidak disertai pengajaran yang intensif, bentakan guru atau kewajiban untuk belajar karena mau ujian. Akibatnya? Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) diselingkat artinya menjadi Kurikulum Beuki Kacau (KBK) (=kurikulum makin kacau) oleh guru-guru sendiri semata-mata karena penerapannya yang jauh menyalahi konsep ideal.
Yang terjadi di Indonesia ialah KBK diterapkan dengan tidak benar. Jauh panggang dari api. Alih-alih hanya memperkenalkan pelajaran, tugas guru dalam KBK yang ideal sebenarnya jauh lebih berat. Mereka dituntut untuk lebih jago, lebih luas pengetahuannya, dan mengajarkan dengan lebih detail kepada anak-anak yang memang kompetensinya lebih di suatu bidang. Seorang guru dituntut untuk lebih mengayomi, memberanikan siswanya untuk lebih membenamkan diri pada kompetensi unggulannya dan membuat siswanya bersaing dengan sengit untuk menjadi yang terbaik di bidangnya. Itulah KBK yang ideal! Salah satu misi dari film ini ialah menjelaskan metode pendidikan KBK yang ideal tersebut.
THE PLOT ....... {Bagian "The Plot" Sengaja Dirahasiakan} ........ ........ Pada akhirnya, mereka tidak mendapat untung yang cukup untuk dapat mewujudkan keinginannya, namun semua orang di kelas bahagia karena mereka telah bekerja keras. Hal inipun menyadarkan guru-guru mengenai makna dari pendidikan yang sesungguhnya.
Btw, ini baru sperma dari cerita, embrio pun belom. Jadi masih sangat banyak yang harus dikembangin. Intinya, jangan sampai kita menggambarkan dunia anak Indonesia sebagai dunia yang statis dan membosankan dan menganggap mereka bodoh atau terlalu polos atau terlalu sok dewasa. Yang harus ditekankan di sini ialah mereka dapat melakukan apapun asalkan mereka bekerja keras.
Kayaknya film ini percampuran dari film-film semacam Mighty Duck, Remember The Titans, The Longest Yard, namun diceritakan dengan gaya yang romantis a la Nobuta Wo Produce dan cukup humoris seperti Densha Otoko.
Tidak diperlukan tokoh antagonis di film ini, karena dalam kehidupan nyata tidak ada yang namanya tokoh antagonis. Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang mau jadi orang jahat, kan? Yang ada ialah keadaan yang memaksa seseorang sehingga membuatnya seolah-olah menghalangi tujuan baik sang tokoh utama. Ini perlu dipikirkan lebih lanjut untuk menghasilkan film yang benar-benar brilian.
Pada PV Sukichan ini, anda akan melihat usaha yang dilakukan Dawa, Yuukarin, Kanon dan Sakicchy untuk membuat sebuah pesta. Dawa yang membuat kue, Yuuka yang mencuci dan mendekor, Kanon yang menjahit taplak dan Sakicchy yang jadi florist (tata bunga). Mereka memiliki bakatnya masing-masing, memiliki kemampuannya masing-masing yang berbeda satu sama lainnya. Mereka pun lantas bekerja sekuat tenaga, demi teman-temannya, mencoba menghasilkan sesuatu yang akan mereka nikmati bersama.
Pada akhirnya, mereka pun membuat pesta yang ditujukan untuk diri mereka sendiri. Pada scene akhir, mereka merayakan pesta tersebut bersama-sama, merayakan satu lagi hari lagi yang indah di usia mereka yang masih sangat muda, smile-age...
Bagi kebanyakan orang, PV Sukichan mungkin tidak lebih dari sebuah presentasi visual yang kawaii, menonjolkan keceriaan pada usia muda. Namun bagi diri saya, PV Suki chan adalah sebuah visi, sebuah gambaran mengenai tatanan ideal akan kehidupan pendidikan di Indonesia.
PV Suki chan adalah perlambang diversifitas, sebuah kebebasan bagi seorang anak untuk menekuni bidang yang diminatinya, lantas memilih jalan hidup yang benar-benar diinginkannya. Untuk bekerja keras sesuai bakatnya, mengikuti isi kata hatinya, berbuat lebih kepada orang-orang yang dicintainya. PV Suki chan menyimbolkan hak untuk menjadi beda, berkreativitas, bekerjasama membentuk masa depan yang lebih cerah.
I honestly fell in love with Sukichan's PV concept, and hoping the next era will be Sukichan era in Indonesia. Let's work hard for the sake of tomorrow, the bright-smile-age era!!
Joined: 14 Jul 2009, 14:04 Posts: 233 Location: Bandung
Blog:View Blog (4)
wedeww thanks berat atas komennya om-om sekalian
@ eroishizuka.. eh.. araisuzaku : bener juga ya, revolusi. butuh banyak orang baik biar tercipta revolusi yang baik. hayu atuh jadi orang baik kita semua
@ J-itsumomo : anak TI om.. ah saya mah belom ada apa-apanya, masih awamm
_________________
<<<<<<< let's support our traditional culture >>>>>>>
Joined: 21 Jan 2010, 23:47 Posts: 39 Location: Jogja Berhati Jepang
Blog:View Blog (0)
setubuh! keren! mantab! a beautitul mind! wah, saya bakal sering-sering berkunjung ke sini kalo banyak hal-hal berharga kayak gini... trims udah mikir, nulis, dan mau berbagi tentang masalah ini minta ijin save & sebarin ya...
Joined: 14 Jul 2009, 14:04 Posts: 233 Location: Bandung
Blog:View Blog (4)
^ ah bisa saja Anda.. masih awam saya mah, belum tahu banyak tapi kalo sering berkunjung ke forum ini, hukum nya wajib loh.. wkwkkw nulis juga om, disini, lumayan loh bisa saling berbagi..
saint_wakatobi wrote:
minta ijin save & sebarin ya...
wekss.. saya sangat bersyukur & berterimakasih sampai Anda mau meluangkan waktu buat nyebarin tulisan awam ini.. Sekalian tolong di-direct ke forum ini ya
sip..
_________________
<<<<<<< let's support our traditional culture >>>>>>>